Just another WordPress.com site

tutorial rekapitulasi nilai

Cara Merekap Nilai….

Rekapitulasi nilai adalah rekapan data penilaian..

Bagi Anda yang sebagai seorang Guru, Pastinya Anda sangat membutuhkan sekali Cara Mudah Merekap Nilai…Di Bawah ini akan dijelaskan cara merekap nilai yang mudah dan sangat praktis..

CARA MEREKAP NILAI

  1. Jika anda ingin merekap nilai, gunakan microsoft office excel
  2. Tentukan terlebih dahulu apa saja yang akan direkap, seperti contohnya membuat rekapitulasi kehadiran, tugas , TS dan analisis
  3. Kemudian, Tulis apa saja yang akan direkap dengan memberi nama pada masing-masing sheet.

Caranya: Contoh pada kolom sheet 1 klik kanan dan klik pada rename, setelah itu anda tinggal mengetik kehadiran, begitu juga dengan sheet 2 klik kanan-rename-kemudian ketik tugas, dan pada sheet 3, klik kanan-rename-ketik UAS, yang terakhir pada sheet 4 klik kanan-rename-ketik analisis. Agar lebih menarik pada masing-masing sheet berikan warna yang berbeda dengan cara klik kanan-tab colour-pilih warna yang anda suka

 

 

 

 

 

 

  1. Pada sheet kehadiran, buat tabel yang terdiri dari No-Nama-Pertemuan ke-…-Jumlah pertemuan-Nilai.

Contoh:

KEHADIRAN
No Nama Pertemuan ke- jumlah nilai
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16    
1 A 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13 81.25
2 B 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 68.75
3 C 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 68.75
4 D 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 100
5 E 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 100
6 F 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13 81.25
7 G 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 100
8 H 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13 81.25
9 I 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13 81.25
10 J 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 100
11 K 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 100
12 L 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 100
13 M 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 100
14 N 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 100
15 O 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16 100

 

  • Pada kolom jumlah diperoleh dari penjumlahan pertemuan dari pertemuan pertama-terakhir
  • Pada kolom nilai diperoleh dari hasil pada kolom jumlah dibagi 16 kemudian dikali 100

 

 

 

 

 

  1. Pada sheet tugas, buat tabel No-Nama-Jenis Tugas-Jumlah-Nilai

Contoh:

TUGAS
No Nama Tugas Jumlah nilai
Buku PPKI Excell Blog    
1 A 0 0 0 0 0 0
2 B 1 1 1 1 4 100
3 C 1 1 1 1 4 100
4 D 1 1 1 1 4 100
5 E 1 1 1 1 4 100
6 F 1 1 1 1 4 100
7 G 1 1 1 1 4 100
8 H 1 1 1 1 4 100
9 I 1 1 1 1 4 100
10 J 1 1 1 1 4 100
11 K 1 1 1 1 4 100
12 L 1 1 1 1 4 100
13 M 1 1 1 1 4 100
14 N 1 1 1 1 4 100
15 O 1 1 1 1 4 100

 

  • Pada kolom jumlah diperoleh dari penjumlahan dari tugas pertama sampai tugas yang terakhir
  • Pada kolom nilai diperoleh dari hasil pada kolom jumlah dibagi 4 kemudian dikali 100

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pada sheet UTS, buat tabel No-Nama-Soal-Jumlah-Nilai

Contoh:

UTS
                           
No Nama SOAL JUMLAH NILAI
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10    
1 A 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 7 70
2 B 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 7 70
3 C 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 7 70
4 D 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 7 70
5 E 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 7 70
6 F 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 7 70
7 G 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 7 70
8 H 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 7 70
9 I 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 7 70
10 J 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 7 70
11 K 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 7 70
12 L 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 7 70
13 M 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 7 70
14 N 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 7 70
15 O 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 7 70

 

  • Pada kolom jumlah diperoleh dari penjumlahan dari soal pertama sampai soal yang terakhir
  • Pada kolom nilai diperoleh dari hasil pada kolom jumlah dibagi 10 kemudian dikali 100

 

 

 

 

 

 

  1. Pada sheet Analisis, buat tabel No-Nama-Nilai(kehadiran,tugas,UTS)-Skor(kehadiran,tugas,UTS)-Jumlah-Kriteria-Lulus.Contoh:
        ANALISIS          
             
No Nama Nilai Skor jumlah kriteria LULUS
kehadiran tugas UTS kehadiran Tugas UTS      
1 A 81.25 0 70 24 0 25 49 C TDK LULUS
2 B 68.75 100 70 21 35 25 80 B LULUS
3 C 68.75 100 70 21 35 25 80 B LULUS
4 D 100 100 70 30 35 25 90 A LULUS
5 E 100 100 70 30 35 25 90 A LULUS
6 F 81.25 100 70 24 35 25 84 A LULUS
7 G 100 100 70 30 35 25 90 A LULUS
8 H 81.25 100 70 24 35 25 84 A LULUS
9 I 81.25 100 70 24 35 25 84 A LULUS
10 J 100 100 70 30 35 25 90 A LULUS
11 K 100 100 70 30 35 25 90 A LULUS
12 L 100 100 70 30 35 25 90 A LULUS
13 M 100 100 70 30 35 25 90 A LULUS
14 N 100 100 70 30 35 25 90 A LULUS
15 O 100 100 70 30 35 25 90 A LULUS

 

  • Pada kolom Nilai diperoleh dari Nilai dari masing-masing sheet tadi yang sudah anda peroleh
  • Pada kolom Skor diperoleh dari:

Kehadiran= nilai kehadiran x 30%

Tugas = nilai tugas x 35%

UTS = nilai UTS x 35%

  • Pada kolom jumlah diperoleh dari penjumlahan skor kehadiran, tugas dan UTS
  • Pada kolom kriteria diperoleh dengan menggunakan rumus “IF”

=If(J6<=20,”E”,IF(J6<=40,”D”,IF(<=60,”C”,IF(J6<=80,”B”,IF(J6<=100,”A”)))))

  • Pada kolom LULUS diperoleh dengan menggunakan rumus “IF”

=IF(H6<=60,”TDK LULUS”,IF(H6<=100,”LULUS”))

 

Itulah tadi cara merekapitulasi nilai….

Semoga anda lebih mudah dan lebih praktis dalam merekap sbuah nilai…

SEMOGA BERHASIL…..THANK’S…

(ju2n..KKRQ..)

Kunjungan Ke Blitar



Berikut adalah foto saya saat melakukan kunjungan di Kota Blitar sekaligus melakukan Observasi

bola basket

Peraturan Permainan Bola Basket

Peraturan Permainan Bola Basket
Aturan dasar pada permainan Bola Basket adalah sebagai berikut.
Bola dapat dilemparkan ke segala arah dengan menggunakan salah satu atau kedua tangan.
Bola dapat dipukul ke segala arah dengan menggunakan salah satu atau kedua tangan, tetapi tidak boleh dipukul menggunakan kepalan tangan (meninju).
Pemain tidak diperbolehkan berlari sambil memegang bola. Pemain harus melemparkan bola tersebut dari titik tempat menerima bola, tetapi diperbolehkan apabila pemain tersebut berlari pada kecepatan biasa.
Bola harus dipegang di dalam atau diantara telapak tangan. Lengan atau anggota tubuh lainnya tidak diperbolehkan memegang bola.
Pemain tidak diperbolehkan menyeruduk, menahan, mendorong, memukul, atau menjegal pemain lawan dengan cara bagaimanapun. Pelanggaran pertama terhadap peraturan ini akan dihitung sebagai kesalahan, pelanggaran kedua akan diberi sanksi berupa diskualifikasi pemain pelanggar hingga keranjang timnya dimasuki oleh bola lawan, dan apabila pelanggaran tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mencederai lawan, maka pemain pelanggar akan dikenai hukuman tidak boleh ikut bermain sepanjang pertandingan. Pada masa ini, pergantian pemain tidak diperbolehkan.
Sebuah kesalahan dibuat pemain apabila memukul bola dengan kepalan tangan (meninju), melakukan pelanggaran terhadap aturan 3 dan 4, serta melanggar hal-hal yang disebutkan pada aturan 5.
Apabila salah satu pihak melakukan tiga kesalahan berturut-turut, maka kesalahan itu akan dihitung sebagai gol untuk lawannya (berturut-turut berarti tanpa adanya pelanggaran balik oleh lawan).
Gol terjadi apabila bola yang dilemparkan atau dipukul dari lapangan masuk ke dalam keranjang, dalam hal ini pemain yang menjaga keranjang tidak menyentuh atau mengganggu gol tersebut. Apabila bola terhenti di pinggir keranjang atau pemain lawan menggerakkan keranjang, maka hal tersebut tidak akan dihitung sebagai sebuah gol.
Apabila bola keluar lapangan pertandingan, bola akan dilemparkan kembali ke dalam dan dimainkan oleh pemain pertama yang menyentuhnya. Apabila terjadi perbedaan pendapat tentang kepemilikan bola, maka wasitlah yang akan melemparkannya ke dalam lapangan. Pelempar bola diberi waktu 5 detik untuk melemparkan bola dalam genggamannya. Apabila ia memegang lebih lama dari waktu tersebut, maka kepemilikan bola akan berpindah. Apabila salah satu pihak melakukan hal yang dapat menunda pertandingan, maka wasit dapat memberi mereka sebuah peringatan pelanggaran.
Wasit berhak untuk memperhatikan permainan para pemain dan mencatat jumlah pelanggaran dan memberi tahu wasit pembantu apabila terjadi pelanggaran berturut-turut. Wasit memiliki hak penuh untuk memberikan diskualifikasi pemain yang melakukan pelanggaran sesuai dengan yang tercantum dalam aturan 5.
Wasit pembantu memperhatikan bola dan mengambil keputusan apabila bola dianggap telah keluar lapangan, pergantian kepemilikan bola, serta menghitung waktu. Wasit pembantu berhak menentukan sah tidaknya suatu gol dan menghitung jumlah gol yang terjadi.
Waktu pertandingan adalah 4 quarter masing-masing 10 menit
Pihak yang berhasil memasukkan gol terbanyak akan dinyatakan sebagai pemenang

SEPAK BOLA

Peraturan
Peraturan Resmi (Laws of the Game)
1863 – Formation of the Football Association
This, then was the sequence of events that led to the forming of the Football Association, a turning point in the history of soccer. The following clubs sent representatives to the meeting at the Freemason’s Tavern on October 26: Forest (later to become the Wanderers, first winners of the FA Cup); NN Kilburn (NN stands for No Names but the club was always known by its initials – like WBA); Barnes; War Office; Crusaders; Perceval House, Blackheath; Crystal Palace; Blackheath; Kensington School; Surbiton; Blackheath School. In addition Charterhouse School sent an observer and some unattached footballers were present.

It was agreed that “the clubs represented at this meeting now form themselves into an association to be called The Football Association.”
The ordeal of adopting a common set of rules however could not be carried out immediately because a minority of clubs led by Blackheath favoured the inclusion of the Rugby School game – the ancestor of today’s Rugby Union game. At a further meeting on December 1st the Rugby advocates were defeated by 13 votes to 4 and withdrew from the Association. On December 8th the proposed rules were formally accepted. For the record these first F.A. Laws were:
The Football Association Laws of 1863
1. The maximum length of the ground shall be 200 yards, the maximum breadth shall be 100 yards, the length and breadth shall be marked off with flags; and the goal shall be defined by two upright posts, eight yards apart, without any tape or bar across them.
2. A toss for goals shall take place, and the game shall be commenced by a place kick from the centre of the ground by the side losing the toss for goals; the other side shall not approach within 10 yards of the ball until it is kicked off.
3. After a goal is won, the losing side shall be entitled to kick off, and the two sides shall change goals after each goal is won.
4. A goal shall be won when the ball passes between the goal-posts or over the space between the goal-posts (at whatever height), not being thrown, knocked on, or carried.
5. When the ball is in touch, the first player who touches it shall throw it from the point on the boundary line where it left the ground in a direction at right angles with the boundary line, and the ball shall not be in play until it has touched the ground.
6. When a player has kicked the ball, any one of the same side who is nearer to the opponent’s goal line is out of play and may not touch the ball himself, nor in any way whatever prevent any other player from doing so, until he is in play; but no player is out of play when the ball is kicked off from behind the goal line.
7. In case the ball goes behind the goal line, if a player on the side to whom the goal belongs first touches the ball, one of his side shall he entitled to a free kick from the goal line at the point opposite the place where the ball shall be touched. If a player of the opposite side first touches the ball, one of his side shall be entitled to a free kick at the goal only from a point 15 yards outside the goal line, opposite the place where the ball is touched, the opposing side standing within their goal line until he has had his kick.
8. If a player makes a fair catch, he shall be entitled to a free kick, providing he claims it by making a mark with his heel at once; and in order to take such a kick he may go back as far as he pleases, and no player on the opposite side shall advance beyond his mark until he has kicked.
9. No player shall run with the ball.
10. Neither tripping nor hacking shall be allowed, and no player shall use his hands to hold or push his adversary.
11. A player shall not be allowed to throw the ball or pass it to another with his hands.
12. No player shall be allowed to take the ball from the ground with his hands under any pretext whatever while it is in play.
13. No player shall be allowed to wear projecting nails, iron plates, or gutta percha on the soles or heels of his boots.

TAE KWON DO

Taekwondo (juga dieja Tae Kwon Do, Taekwon-Do) adalah olahraga bela diri asal Korea yang juga populer di Indonesia, olah raga ini juga merupakan olahraga nasional Korea. Ini adalah seni bela diri yang paling banyak dimainkan di dunia[rujukan?] dan juga dipertandingkan di Olimpiade.
Dalam bahasa Korea, hanja untuk Tae berarti “menendang atau menghancurkan dengan kaki”; Kwon berarti “tinju”; dan Do berarti “jalan” atau “seni”. Jadi, Taekwondo dapat diterjemahkan dengan bebas sebagai “seni tangan dan kaki” atau “jalan” atau “cara kaki dan kepalan”. Popularitas taekwondo telah menyebabkan seni ini berkembang dalam berbagai bentuk. Seperti banyak seni bela diri lainnya, taekwondo adalah gabungan dari teknik perkelahian, bela diri, olahraga, olah tubuh, hiburan, dan filsafat.
Meskipun ada banyak perbedaan doktriner dan teknik di antara berbagai organisasi taekwondo, seni ini pada umumnya menekankan tendangan yang dilakukan dari suatu sikap bergerak, dengan menggunakan daya jangkau dan kekuatan kaki yang lebih besar untuk melumpuhlan lawan dari kejauhan. Dalam suatu pertandingan, tendangan berputar, 45 derajat, depan, kapak dan samping adalah yang paling banyak dipergunakan; tendangan yang dilakukan mencakup tendangan melompat, berputar, skip dan menjatuhkan, seringkali dalam bentuk kombinasi beberapa tendangan. Latihan taekwondo juga mencakup suatu sistem yang menyeluruh dari pukulan dan pertahanan dengan tangan, tetapi pada umumnya tidak menekankan grappling (pergulatan).
Tiga materi dalam latihan
Poomsae atau rangkaian jurus adalah rangkaian teknik gerakan dasar serangan dan pertahanan diri, yang dilakukan melawan lawan yang imajiner, dengan mengikuti diagram tertentu. Setiap diagram rangkaian gerakan poomse didasari oleh filosofi timur yang menggambarkan semangat dan cara pandang bangsa Korea.
Kyukpa atau teknik pemecahan benda keras adalah latihan teknik dengan memakai sasaran/obyek benda mati, untuk mengukur kemampuan dan ketepatan tekniknya. Obyek sasaran yang biasanya dipakai antara lain papan kayu, batu bata, genting, dan lain-lain. Teknik tersebut dilakukan dengan tendangan, pukulan, sabetan, bahkan tusukan jari tangan.
Kyoruki atau pertarungan adalah latihan yang mengaplikasikan teknik gerakan dasar atau poomse, dimana dua orang yang bertarung saling mempraktekkan teknik serangan dan teknik pertahanan diri.
Filosofi sabuk pada Tae Kwon Do
Putih melambangkan kesucian, awal/dasar dari semua warna,permulaan.Di sini para taekwondoin mempelajari jurus dasar(gibon)1
Kuning melambangkan bumi,disinilah mulai ditanamkan dasar-dasar TKD dengan kuat.Mempelajari gibon 2 dan 3.Sebelum naik sabuk hijau biasanya naik ke sabuk kuning strip hijau terlebih dahulu.
Hijau melambangkan hijaunya pepohonan,pada saat inilah dasar TKD mulai ditumbuhkembangkan.(mempelajari taeguk 2).Sebelum naik ke sabuk biru biasanya naik ke sabuk hijau strip biru terlebih dahulu.
Biru melambangkan birunya langit yang menyelimuti bumi dan seisinya,memberi arti bahwa kita harus mulai mengetahui apa yang telah kita pelajari.(mempelajari taeguk 4).Sebelum naik sabuk merah biasanya naik ke sabuk biru strip merah terlebih dahulu.
Merah melambangkan matahari artinya bahwa kita mulai menjadi pedoman bagi orang lain dan mengingatkan harus dapat mengontrol setiap sikap dan tindakan kita.(mempelajari taeguk 6). Sebelum naik sabuk hitam, biasanya naik ke sabuk merah strip dua dan merah strip satu dahulu. Maksud dari matahari adalah tingkaran di mana seorang sabuk merah memberi kehangatan atau dalam arti denotasi mulai memberi ilmu atau bimbingan.
Hitam melambangkan akhir,kedalaman,kematangan dalam berlatih dan penguasaan diri kita dari takut dan kegelapan.Hitam memiliki tahapan dari Dan 1 hingga Dan 9. Juga melambangkan alam semesta.

Teknik Bola Voli
Service
Servis pada jaman sekarang bukan lagi sebagai awal dari suatu permainan atau sekedar menyajikan bola, tetapi sebagai suatu serangan pertama bagi regu yang melakukan servis. Servis terdiri dari servis tangan bawah dan servis tangan atas. Servis tangan atas dibedakan lagi atas tennis servis, floating dan cekis.
Service ada beberapa macam:
Service atas adalah service dengan awalan melemparkan bola ke atas seperlunya. Kemudian Server melompat untuk memukul bola dengan ayunan tangan dari atas.
Service bawah adalah service dengan awalan bola berada di tangan yang tidak memukul bola. Tangan yang memukul bola bersiap dari belakang badan untuk memukul bola dengan ayunan tangan dari bawah.
Service mengapung adalah service atas dengan awalan dan cara memukul yang hampir sama. Awalan service mengapung adalah melemparkan bola ke atas namun tidak terlalu tinggi (tidak terlalu tinggi dari kepala). Tangan yang akan memukul bola bersiap di dekat bola dengan ayunan yang sangat pendek.
Yang perlu diperhatikan dalam service
Sikap badan dan pandangan
Lambung keatas harus sesuai dengan kebutuhan.
Saat kapan harus memukul Bola.

Service dilakukan untuk mengawali suatu pertandingan voli
Passing
Passing Bawah (Pukulan/pengambilan tangan kebawah)
Sikap badan jongkok, lutut agak ditekuk.
tangan dirapatkan, satu dengan yang lain dirapatkan.
Gerakan tangan disesuaikan dengan keras/lemahnya kecepatan bola.
Passing Keatas (Pukulan/pengambilan tangan keatas)
Sikap badan jongkok, lutut agak ditekuk.
Badan sedikit condong kemuka, siku ditekuk jari-jari terbuka membentuk lengkungan setengah bola.
Ibu jari dan jari saling berdekatan membentuk segitiga.
Penyentuhan pada semua jari-jari dan gerakannya meluruskan kedua tangan
Smash (spike)
Dengan membentuk serangan pukulan yang keras waktu bola berada diatas jaring, untuk dimasukkan ke daerah lawan. Untuk melakukan dengan baik perlu memperhatikan faktor-faktor berikut: awalan, tolakan, pukulan, dan pendaratan. Teknik smash Menurut Muhajir Teknik dalam permainan bola voli dapat diartikan sebagai cara memainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan permainan yang berlaku untuk mencapai suatu hasil yang optimal (2006,23). Menurut pendapat M. Mariyanto mengemukakan bahwa : “ Smash adalah suatu pukulan yang kuat dimana tangan kontak dengan bola secara penuh pada bagian atas , sehingga jalannya bola terjal dengan kecepatan yang tinggi, apabila pukulan bola lebih tinggi berada diatas net , maka bola dapat dipukul tajam ke bawah .” (2006 : 128 ) Menurut Iwan Kristianto mengemukakan bahwa , Smash adalah pukulan keras yang biasanya mematikan karena bola sulit diterima atau dikembalikan . “ (2003 : 143 ) . Spike adalah merupakan bentuk serangan yang paling banyak digunakan untuk menyerang dalam upaya memperoleh nilai suatu tim dalam permainan voli . Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Teknik Smash atau spike adalah cara memainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan permainan untuk mencapai pukulan keras yang biasanya mematikan ke daerah lawan. Tes smash Menurut Sandika mengemukakan bahwa tes smash adalah tolok ukur untuk mengukur kemampuan smash.
Membendung (blocking)
Dengan daya upaya di dekat jaring untuk mencoba menahan/menghalangi bola yang datang dari daerah lawan. Sikap memblok yang benar adalah:
Jongkok, bersiap untuk melompat.
Lompat dengan kedua tangan rapat dan lurus ke atas.
Saat mendarat hendaknya langsung menyingkir dan memberi kesempatan pada kawan satu regu untuk bergantian memblok.
Kedudukan pemain (posisi pemain)
Pada waktu service kedua regu harus berada dalam lapangan / didaerahnya masing-masing dalam 2 deret kesamping. Tiga deret ada di depan dan tiga deret ada di belakang. Pemain nomor satu dinamakan server, pemain kedua dinamakan spiker, pemain ketiga dinamakan set upper atau tosser,pemain nomor empat dinamakan blocker, pemain nomor lima dan enam dinamakan libero

ANNGUN KARTIKA SARI
108711410220

Jenis Penelitian:        Deskriptif Kuantitatif
Tujuan penelitian:     untuk mengembangkan model latihan strategi penyerangan dan pertahananpola permainan 2-1-1 permainan futsal yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam menerapkan pola permainan yang baik dan dapat dijadikan solusi dalam bagaimana memenangkan suatu pertandingan dengan cara yang sportif
Instrumen pengumpulan data:
teknik analisis kualitatif (kuisioner) ini digunakan untuk mengumpulkan data antara lain: penelitian awal(analisis kebutuhan), evaluasi dari ahli yang berupa saran dan masukan tentang rancangan produk yang akan diuji.
Inventori digunakan untuk mengumpulkan data uji coba (kelompok kecil) dan uji lapangan (kelompok besar). Inventori berisi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada subjek uji coba (kelompok kecil) dan uji lapangan (kelompok besar)
Jenis Data:    data kualitatif dan data kuantitatif
Teknik analisis data:    teknik analisis kualitatif dan kuantitatif
Populasi:    SMA NEGERI 2 LUMAJANG
Sampel:        Siswa yang mengikuti ekstra kurikuler futsal SMA Negeri 2 Lumajang

MEMBUAT SEPERANGKAT TES PENGETAHUAN PENJASKES
UNTUK SD KELAS V SEMESTER II
DALAM EVALUASI HASIL BELAJAR SISWA

MAKALAH

Oleh:
Dovan Achmad Muslim  207 711 408 949
Ishlakhuddin Yahya       107 711 410 193
Anggun Kartika Sari      108 711 410 220
Sigit Bayu Utomo          108 711 410 221
Grani Yona Riaples        108 711 410 223
Dimas Ardi Saputra       108 711 410 224

PJK / AA / ‘08

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
JURUSAN PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN

Oktober 2010
BAB I
PENDAHULUAN

ALASAN PERLU MEMBUAT TES
Adanya perbedaan daya tangkap pada tiap siswa terhadap pembelajaraan yang terlaksana.
Guru perlu mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi-materi yang telah diberikan.
Hasil tes digunakan sebagai salah satu aspek dalam penentuan evaluasi dan pemberian nilai terhadap seorang siswa.
Menentukan penanganan khusus yang perlu diberikan terhadap anak didik.

PEGERTIAN TES PENGETAHUAN PENJASKES
Instrument yang berfungsi untuk mengumpulkan data berupa pengetahuan (kemempuan kognitif) individu atau kelompok dalam bidang penjaskes guna mengumpulkan informasi tertentu yang dibutuhkan dengan menggunakan skala atau angka tertentu.
TUJUAN PEMBUATAN TES
Untuk menentukan status siswa, tentang kemajuan dan pencapaian siswa sehingga dapat mengembangkan dari satu keahlian ke tingkat lain atau menentukan nilai ke tingkat nilai yang lain.
Menggolongkan siswa kedalam kelompok yang sama berdasarkan cirri tertentu.
Memilih sedikit diantara yang benyak.
Meneliti kekuatan dan kelemahan individu sehingga program yang tepat dapat dikembangkan.
Memotivasi siswa belajar dengan giat di dalam ataau di luar kalas.
Menilai keefektifan guru melalui metode mengajar dan kurikulum.
Pengumpulan data dalam upaya pengembangan norma-norma sekolah.

BAB II
METODE DAN TEKNIK
Materi dalam Pendidikan Jasmani dan Kesehatan untuk SD kelas V semester II
Aktivitas Permainan (Sepak Bola Lanjutan dan Rounders Lanjutan)
Kebugaran Jasmani (Latihan Kekuatan dan Latihan Kelincahan)
Senam Ketangkasan (Senam Ketangkasan dan Senam Lantai)
Gerak Irama (Gerak Irama dan Senam Indonesia Sehat)
Kegiatan Aquatik (Renang Gaya Punggung)
Aktivitas Luar Kelas (Penjelajahan Luar Kelas dan Mengenal Tanda Jejak)
Budaya Hidup Sehat (Bahaya Merokok dan Bahaya Minuman Beralkohol)
Jenis-jenis tes yang dapat digunakan
Ada beberapa metode yang dapa digunakan untuk mengukur pengetahuan pejas, diantaranya: (1) tes observasi langsung, (2) tes ujian lisan, (3) tes tulis, (4) tes jawaban pendek. Namun pada kesempatan ini kita akan membahas tes mengukur pengetahuan penjas dengan lisan dan esai.
Tes lisan
Teknik ini jarang digunakan dalam pendidikan jasmani sebagai masukan bagi suatu sisitem evaluasi formatis ataupun sumatis. Apakah murit memahami tugas motorik? Meminta murit berfikir dan secara lisan menerangkan rangkaian gerakan dalam suatu tugas dapat memberi kita informasi yang penting. Kita dapat menentukan apakah dia memahami seperti apa yang diharapkan tetapi tidak dapat melakukan tugas itu, atau apakah dia tidak dapat melakkan tugas motorik karena dia tidak memahami apa yang diinginkan. Ujian lisan dapat meluas ataupun singkat dan dapat dilakukan kapan saja. Seperti dengan semua ujian, ujian lisan harus memiliki kurikulum atau validitas isi. Ujian lisan juga dapat digunakan untuk menilai kemampuan kognitif.
Tes tulis
Suatu ujian tulis adalah ujian dimana murid diminta menjawab pertanyaan dalam bentuk tertulis. Biasanya sejumlah banyak pertanyaan dirumuskan memerlukuan jawaban yang sangat pendek atau mengharuskan murid untuk menandai jawaban yang benar pada suatu lembar jawaban. Murid harus mengenal jawaban dan memilih jawaban yang benar dari seperangkat kemungkinan jawaban yang benar atau mengharuskan murid mengingat kembali dari ingatan jawaban yang benar.
keuntungan menggunakan tes tulis antara lain:
Guru dapat mencakup konsep-konsep yang sudah diajarkan dalam jumlah yang besar.
Pemberian skor mudah, cepat, dan dapat dipercaya.
Dapat menguji murid dalam jumlah besar dalam rentang waktu yang singkat.

Syarat-syarat tes yang baik
Tes yang baik harus memenuhi beberapa syarat tes. Adapun syarat yang harus dipenuhi dalam tes adalah:
Syarat validitas
Yang dimaksut validitas adalah ketepatan pengukuran terhadap unsur-unsur penting yang harus diukur. Tes dikatakan valid jika tes tersebut mengukur secara tepat unsur-unsur yang harus diukur.
Syarat realibilitas\
Reliabilitas adalah ketetapan, keajegan (consistency) suatu alat evaluasi atau hasil dari instrumen tersebut. Suatu tes dikatakan reliabel, jika tes tersebut memiliki tingkat koefisien tertentu.
Syarat objektivitas
Obyektivitas : jika dua atau lebih pengetes memperoleh hasil yang seragam (uniform) dalam pengambilan tes terhadap sekelompok testi.
Syarat utilitas
Pemilihan atau pelaksanaan tes itu harus sesuai dengan tujuan

Langkah-langkah membuat tes
Adalah suatu hal yang penting untuk memahami langkah-langkah pembuatan dan penilaian tes-tes pengetahuan. Adapun langkah-langka yang harus dilakukan adalah sebagai berikut.
Merencanakan ujian
Menentukan tujuan ujian
Mengembangkan suatu tabel spesifikasi atau garis besar suatu tes
Mempersiapkan ujian
Menentukan isi atau validitas kurikulum
Menentukan jenis-jenis soal
Menyiapkan atau menulis soal-soal
Menentukan artikel-artikel dalam tempat yang pantas dalam tes
Melaksanakan ujian
Menentukan kualitas tes
Artikel penilaian analisis kesukaran, artikel perbedaan, pemanfaatan, respon-respon
Tes validitas
Tes realibilitas
Tes objektivitas
Revisi soal-soal tes jika diperlukan
Mengembangkan norma-norma
Analisis validitas dan reliabilitas
Alat dan bahan yang digunakan
Adapun alat dan bahan yang harus disediakan adalah:
Alat tulis
Lembar soal dan jawaban untuk siswa
Penunjuk waktu
Tempat tes

Pelaksanaan
Untuk tes tulis
Siswa masuk ke dalam kelas dan menempati tempat duduk yang telah disediakan.
Setelah peserta tes siap, soal dan lembar jawaban dibagikan.
Peserta diberi kesempatan mengerjakan sesuai waktu yang telah ditentukan dalam petunjuk yang ada di lembar soal.
Lembar jawaban dan soal harus dikumpulkan tepat pada waktunya.
Jawaban di evaluasi dan nilainya direkap.
Melakukan uji validitas, reliabilitas dan objektivitas.
Nilai akhir siap diterbitkan.

LAMPIRAN

Kurikulum Pendidikana Jasmani untuk SD kelas V, semester 2

Standart Kompetensi    Kompetensi Dasar
6.   Mempraktikkan berbagai macam variasi gerak dasar ke dalam permainan dan olahraga dengan peraturan yang dimodivikasi dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya    6.1 Mempraktikkan variasi teknik dasar salah satu permainan dan olahraga bola besar, serta nilai kerjasama, sportivitas, dan kejujuran**) (sepak bola lanjutan)
6.2 Mempraktikkan variasi teknik dasar salah satu permainan dan olahraga bola kecil, serta nilai kerjasama, sportivitas, dan kejujuran**) (rounders)
7 .  Mempraktikkan latihan  kebugaran jasmani dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya     7.1 Mempraktikkan aktivitas untuk kekuatan otot- otot anggota badan bagian bawah,dan atas serta nilai kerja keras, disiplin, kerjasama dan kejujuran
7.2 Mempraktikkan aktivitas untuk kelincahan dengan kualitas gerak yang meningkat, serta nilaikerja keras, disiplin, kerjasama, dan kejujuran
8 .  Mempraktikkan berbagai bentuk senam ketangkasan dengan koordinasi yang baik, dan nilai-nilai yang terkandung didalamya      8.1 Mempraktikkan sebuah rangkaian gerak senam ketangkasan dengan konsisten, tepat, dan koordinasi yang baik, serta nilai keselamatan , disiplin dan keberanian
8.2 Mempraktikkan bentuk-bentuk rangkaian  gerak senam  ketangkasan dengan koordinasi dan kontrol yang baik, serta nilai keselamatan , disiplin dan keberanian

9 .  Mempraktikkan kombinasi berbagai gerak dasar dalam gerak berirama dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya    9.1 Mempraktikkan kombinasi pola gerak mengayun, menarik, menekuk, meliuk, memutar dalam  gerak berirama, serta nilai kerjasama, percaya diri dan disiplin
9.2 Mempraktikkan satu  pola gerak berirama terstruktur dengan konsisten dan lancar serta nilai kerjasama, percaya diri, dan disiplin
10 .  Mempraktikkan gerak dasar renang gaya punggung dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya*)    10.1 Mempraktikkan gerak dasar  renang gaya punggung : meluncur, menggerakkan tungkai, menggerakkan lengan, serta nilai kebersihan, keberanian dan percaya diri
10.2 Mempraktikkan kombinasi gerakan lengan  dan tungkai renag gaya punggung, serta nilai keberanian dan percaya diri
11 .  Mempraktikkan penjelajahan disekitar lingkungan sekolah, dan nilai-nili yang terkandung didalamnya***)    11.1 Mempraktikkan pembuatan rencana kegiatan penjelajahan
11.2 Mempraktikkan berbagai ketrampilan gerak dalam kegiatan penjelajahan di linkunga sekolah yang sehat, serta nilai kerjasama, disiplin , keselamatan, kebersihan dan etika
12 . Menerapkan budaya hidup sehat     12.1 Mengenal bahaya merokok bagi kesehatan
12.2 Mengenal bahaya minuman keras

Indikator Pembelajaran

Kompetensi Dasar    Indikator
6.1 Mempraktikkan variasi teknik dasar salah satu permainan dan olahraga bola besar, serta nilai kerjasama, sportivitas, dan kejujuran**)
6.2 Mempraktikkan variasi teknik dasar salah satu permainan dan olahraga bola kecil, serta nilai kerjasama, sportivitas, dan kejujuran**)    6.1 Mengenal, mengetahui, memahami variasi teknik dasar permainan sepak bola: passing, dribbling, control

6.2 Mengenal, mengetahui, memahami variasi teknik dasar permainan rounders (modivikasi) : lempar- tangkap, memukul bola,teknik lari
7.1 Mempraktikkan aktivitas untuk kekuatan otot- otot anggota badan bagian bawah,serta nilai keras, disiplin, kerjasama dan kejujuran
7.2 Mempraktikkan aktivitas untuk  kelincahan dengan kualitas gerak yang meningkat, serta nilaikerja keras, disiplin, kerjasama, dan kejujuran    7.1 Mengenal, mengetahui, memahami variasi aktivitas untuk kekuatan otot-otot anggota badan bagian bawah : sit-up, back lift
7.2 Mengenal, mengetahui, memahami variasi aktivitas unntuk kelincahan : lompat tali, lari zig-zag
8.1 Mempraktikkan sebuah rangkaian gerak senam ketangkasan dengan konsisten, tepat, dan koordinasi yang baik, serta nilai keselamatan , disiplin dan keberanian
8.2 Mempraktikkan bentuk-bentuk rangkaian gerak senam  ketangkasan dengan koordinasi dan kontrol yang baik, serta nilai keselamatan , disiplin dan keberanian
8.1 Mengenal, mengetahui, memahami variasi rangkaian gerak senam ketangkasan : sikap lilin, lari menerobis dan lompat

8.2 Mengenal, mengetahui, memahami variasi rangkaian gerak senam lantai : roll depan, roll belakang
9.1 Mempraktikkan kombinasi pola gerak mengayun, menarik, menekuk, meliuk, memutar dalam  gerak berirama, serta nilai kerjasama, percaya diri dan disiplin
9.2 Mempraktikkan satu  pola gerak berirama terstruktur dengan konsisten dan lancar serta nilai kerjasama, percaya diri, dan disiplin    9.1 Mengenal, mengetahui, memahami kombinasi pola gerak latihan peregangan badan dan peregangan otot lengan dan kaki

9.2 Mengenal, mengetahui, memahami kombinasi pola gerak berirama terstruktur : Senam Indinesia Sehat, SKJ
10.1 Mempraktikkan gerak dasar renag gaya punggung : meluncur, menggerakkan tungkai, menggerakkan lengan, serta nilai kebersihan, keberanian dan percaya diri
10.2 Mempraktikkan kombinasi gerakan lengan  dan tungkai renag gaya punggung, serta nilai keberanian dan percaya diri    10.1 Mengenal, mengetahui, memahami variasi gerak dasar renang gaya punggung : posisi badan, meluncur, gerakan kaki dan tangan

10.2 Mengenal, mengetahui, memahami kombinasi geraka dalam renang gaya punggung : kombinasi gerakan lengan dan kaki
11.1 Mempraktikkan pembuatan rencana kegiatan penjelajahan
11.2 Mempraktikkan berbagai ketrampilan gerak dalam kegiatan penjelajahan di linkunga sekolah yang sehat, serta nilai kerjasama, disiplin , keselamatan, kebersihan dan etika    11.1 Mengenal, mengetahui, memahami pembuatan rencana kegiatan penjelajahan
11.2 Mengenal, mengetahui, memahami ketrampilan dalam kegiatan penjelajahan : mengenal tanda jejak

12.1 Mengenal bahaya merokok bagi kesehatan
12.2 Mengenal bahaya minuman keras    12.1 Mengenal, mengetahui, memahami bahaya merokok bagi kesehatan
12.2 Mengenal, mengetahui, memahami  bahaya minum minuman beralkohol bagi kesehatan

Kisi- kisi tes pengetahuan

No.    Standart Kompetensi    Tujuan    Bentuk Soal
Esai    Obyektif    Jumlah
1.    6    Siswa dapat mengenal, menegetahui, dan memahami variasi gerakan dan peraturan dasar dalam permainan  sepakbola dan rounders     2    7    9
2.    7    Siswa dapat mengetahui, mengenal, dan memahami variasi latihan untuk melatih kekuatan otot atas dan bawah dan juga latihan untuk melatih kelincahan    2    5    7
3.    8    Siswa dapat mengetahui, mengenal, dan memahami variasi gerakan dasar sederhana dalam latihan senam ketangkasan     2    4    6
4.    9    Siswa dapat menegetahui, mengenal, dan memahami variasi gerakan dasar dan rangkaian gerakan dalam senam irama    1    4    5
5.    10    Siswa dapat menegetahui, mengenal, dan memahami variasi gerakan dasar, koordinasi gerak, dan variasi latihan dalam olahraga renang gaya punggung    1    4    5
6.    11    Siswa dapat mengetahui, mengenal, dan memahami tentang perencanaan, pelaksanaan, dan ketrampilan penjelajahan dalam lingkungan sekitar sekolah    1    2    3
7    12    Siswa dapat mengetahui, mengenal, dan memahami tentang bahaya merokok dan minum minuman keras bagi kesehatan manusia    1    4    5
Jumlah soal yang diujikan    10    30    40

Keterangan:
Untuk soal obyetif / pilihan ganda memiliki skore 2 untuk setiap butir soal
Untuk soal esai / tes jawaban singkat memiliki skore 4 untuk setiap butir soal

SOAL TES PENGETAHUAN PENDIDIKAN JASMANI
KELAS 5 SD SEMESTER 2
Panduan pelaksanaan :
Siswa memsuki ruangan  dan menempati tempat yang sudah disiapkan
Dilarang membawa catatan dalam bentuk apapun ke dalam ruang tes
Siswa dibagikan lembar jawaban yang sudah disiapkan oleh guru
Siswa dipersilahkan mengisi data diri dalam form lembar jawaban yang telah dibagikan
Siswa dapat membaca soal tes yang akan ditampilkan menggunakan LCD
Waktu yang diberikan dalam tes adalah 60 menit
Selama tes sedang barlangsung dilarang berbuat curang dan dilarang berkomunikasi tanpa seijin guru pengawas
Skor tiap butir tes :
Tes obyektif / pilihan ganda,  2 poin untuk tiap jawaban  yang benar, dan 0 untuk jawaban yang salah.
Tes esei, 4 poin untuk tiap jawaban yang benar, dan 0 untuk jawaban yang salah.
Siswa harus segera menyerahkan lembar jawaban setelah selesai atau pada saat waktu yang diberikan sudah habis
Kerjakan dengan sebaik-baiknya, koreksi kembali lembar jawaban sebelum mengumpulkan kepada petugas

**** Selamat mengerjakan ****

Berilah tanda silang (X) pada jawaban yang paling benar!
Dribbling adalah teknik dalam sepak bola yang berarti …….
Menendang
Menahan
Menggiring
Mengoper

Apabila bola keluar di daerah sepanjang pinngir lapangan akan mengakibatkan …….
Tendangan bebas
Tendangan penalty
Terjadi offside
Lemparan ke dalam

Hukuman yang akan diberikan ketika bola menyentuh tangan pada sepak bola adalah ………
Lemparan kedalam
Tendangan penjuru
Tendangan bebas
Tendangan gawang

Pemain yang melakukan pelanggaran berat dalam sepak bola akan langsung mendapatkan ……
Kartu kuning
Tendangan penjuru
Kartu merah
Lemparan kedalam

Jumlah tiang hinggap pada perminan rounders berjumlah …..
Tiga tiang hinggap
Empat tiang hinggap
Lima tiang hinggap
Enam tiang hinggap

Alat pemukul dalam permainan rounders berjumlah …..
Stik
Bet
Raket
Gloves

Dalam permainan rounders, jika terjadi bola tangkap sebanyak lima kali maka akan terjadi ……
Tukar tempat
Regu penjaga mendapat nilai
Regu pemukul mati
Regu pemukul dikurangi nilainya

Gerakan push up bertumpu pada …..
Kedua tangan dan kedua lutut
Kedua tangan dan perut
Kedua tangan dan punggung
Kedua kaki dan punggung

Posisi badan ketika melakukan push up adalah …..
Telentang
Telungkup
Miring ke kanan
Miring ke kiri

Latihan sit up bertujuan untuk …..
Menguatkan otot punggung
Menguatkan otot perut
Meguatkan otot kaki
Mrnguatkan otot tangan
Melatih kelincahan gerak dapat menggunakan …..
Latihan sit up
Latihan push up
Latihan lompat tali
Latihan back lift

Tujuan lari zig-zag adalah untuk meningkatkan…….
Kelincahan
Kekuatan
Kelentukan
Daya tahan

Berikut latihan senam yang tidak memerlukan alat adalah …..
Guling ke depan
Guling ke belakang
Sikap lilin
Lompat tali

Posisi kedua tangan ketika melakukan sikap lilin adalah …..
Berada di pinggang
Memegang kaki
Berada di samping kiri
Memegang leher

Headstand adalah sikap berdiri dengan bertumpu pada …..
Tangan
Kening
Leher
Kaki

Sikap awal melakukan sikap lilin adalah …..
Badan telungkup
Berdiri tegak
Berbaring terlentang
Jongkok

Gerakan senan irama disesuaikan dengan …..
Ayunan kaki
Ayunan tangan
Irama lagu atau music
Gerakan tangan

Gerakan meliukkan badan berguna untuk melatih…..
Otot kaki
Otot paha
Otot pinggang
Otot leher

Sebelum melakukan gerakan senam utama sebaiknya melakukan …..
Pemanasan
Pendinginan
Lari sekancang-kencangnya
Gerakan push up

Tarik nafas dan buang nafas termasuk dalam tahap ……
Latihan pemanasan
Latihan utama
Latihan pendidnginan
Latihan pokok

Istilah lain untuk renang gaya punggung adalah …..
Gaya crawl
Gaya backstroke
Gaya breastroke
Gaya butterfly

Posisi badan saat melakukan renang gaya punggung yang benar adalah …..
Terlentang lurus di atas permukaan air
Terlentang lurus di bawah permukaan air
Terlungkup diatas permukaan air
Terlungkup di bawah permukaan air

Gerakan kaki yang benar dalam renang gaya punggung adalah …..
Gerakan pada pangkal paha
Gerakan pada pergelangan kaki
Gerakan pada kaki yang terkuat
Gerakan pada kaki kanan

Gerakan pengambilan nafas yang baik adalah …..
Pada saat dipermukaan air
Pada saat dipinggir kolam renang
Pada saat ditengah kolam renang
Ketika hendak berputar arah

Sebaiknya kegiatan penjelajahan dilakukan secara berkelompok dengan tujuan ……
Mencapai garis finish dengan cepat
Memupuk sikap saling kerjasama di antara anggota kelompok
Agar mendapat nilai perorangan
Memupuk sikap egois setiap anggota kelompok

Cara-cara yang biasa digunakan dalam membuat tanda jejak adalah dengan ……
Tumpukan batu
Ikatan kertas
Susunan besi tua
Timbunan pasir

Bahaya nikotin antara lain adalah …..
Meningkatkan nafsu makan
Menyebabkan kegemukan
Menurunkan berat badan
Menyebabkan kecanduan

Racun yang terdapat dalam rokok berupa …..
Nikotin, tar, karbon monoksida
Nikotin, tar, oksigen
Nikotin, tar, tembakau
Nikotin, tembakau, karbon dioksida

Alkohol dihasilkan dari …..
Getah tanaman merambat
Protein nabati
Fermentasi karbohidrat
Protein hewani

Minum minuman beralkohol akan membahayakan tubuh karena …..
Zat yang terkandung dalam alkohol adalah zat yang mudah terbakar
Dapat menghilangkan kesadaran
Harga minuman beralkohol biasanya mahal
Kemasan minuman beralkohol biasanya tidak steril

II.  Isilah titik-titik di bawah ini dengan benar!
Pelanggaran ringan pada sepak bola mendapat peringatan dengan mendapat kartu ……

Jumlah hakim garis dalam pertandinga sepak bola adalah …..

Melatih kekuatan otot tangan dan bahu dapat menggunakan latihan …….

Gerakan-gerakan yang dapat digunakan untuk melatih kelincahan di antaranya adalah …..

Berdiri dengan tumpuan kepala disebut juga dengan …..

Posisi dagu saat melakukan gerakan berguling sebaiknya …..

Salah satu fungsi gerakan pemanasan adalah mencegah terjadinya …..

Posisi badan yang benar saat melakukan renang gaya punggung adalah …..

Kegiatan penjelajahan bertujuan untuk ……

Kebiasaan merokok sangat berbahaya bagi kesehatan karena ……

BAB III
KESIMPULAN

KESIMPULAN
Tes pengetahuan penjaskes adalah instrument yang berfungsi untuk mengumpulkan data berupa pengetahuan (kemempuan kognitif) individu atau kelompok dalam bidang penjaskes guna mengumpulkan informasi tertentu yang dibutuhkan dengan menggunakan skala atau angka tertentu.
Untuk mengetahui pengetahuan penjas seseorang kita dapat menggunakan beberapa metode tes, diantaranya; (1) tes observasi langsung, (2) tes ujian lisan, (3) tes esaii, (4) tes jawaban pendek.
Dalam melakukan suatu tes kita harus memenuhi syarat-syarat tes, diantaranya; tes validitas, objektivitas, reliabilitas dan utilitas.

SARAN

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Arma. 1988. Evaluasi dalam Pendidikan Olahraga dan Kesehatan. Dikti. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan . Jakarta

Mardianto. 1992. Penyusunan Alat Evaluasi Pendidikan Olahraga Dan Kesehatan. IKIP Malang. Proyek OPF

M.E. Winarno. 2004. Evaluasi Dalam Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Center For Human Capacity Development. Jakarta

M.E. Winarno. 2007. Penilaian Hasil Belajar Dalam Pendidikan Jasmani. Laboratorium PJK FIP UM.

TUGAS MERUJUK

Anggun Kartika Sari
108711410220
Tugas Komputer 2

Penulisa kutipan
Kutipan Langsung, contoh:
Kutipan ringkas (≥40 kata) menggunakan tanda kutip, contoh: Widyartono (2008: 78)menyimpulkan “ada hubungan yang erat antara mentalitas seseorang dengan totalitas pembacaan puisi”.

Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “ada hubungan yang erat antara mentalitas seseorang dengan totalitas pembacaan puisi” (Widyartono, 2008: 78).

Catatan:
Tanda kutipan tunggal (‘…..’) dipakai di dalam tanda kutip (“…”), misalkan kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “ada hubungan yang erat antara rasa ‘PD’ seseorang dengan totalitas pembacaan puisi”.

Kutipan ringkas (≥ 40 kata) menggunakan tanda elipsis (…)
“Puisi adalah rangkaian kata dari perasaan yang imajinatif, konkret, dan artistik.  …   Artistik menunjukkan sisi keindahan yang bersifat unik, berbeda dengan yang lain” (Widyartono, 2008: 78).

Kutipan panjang (≥ 41 kata) menggunakan spasi 1
………………………………………………………………………………………………………………………………………….   .  Widyartono   (2008:78) menarik kesimpulan sebagai berikut.
Puisi adalah rangkaian kata dari perasaan yang imajinatif, konkret, dan artistik. Kata dirangkai untuk menggambarkan perasaan yang bersifat imajinasi, baik mengacu pada kenyataan, maupun sekedar bayangan. Konkret dapat diwujudkan menjadi sesuatu yang nyata berupa rangkaian kata. Artistik menunjukkan sisi keindahan yang bersifat unik, berbeda dengan yang lain.

Kutipan lebih dari 40 kata
Visbeen (1992: 37) menarik kesimpulan sebagai berikut:
Saat melakukan pasing, ujung telapak kaki harus dibuka sedikit dan tidak boleh sejajar. Posisi badan menghadap ke depan. Sebelum dipukul, bole dipegang dengan tangan kiri dan dilempar terlebih dahulu kemudian dipukul. Saat memukul, telapak tangan dibuka dengan keras. Bola dipukul dengan sekeras-kerasnya agar melewati net.

Kutipan tidak langsung, contoh:
Widyartono (2008: 78) menyimpulkan bahwa mentalitas seseorang berkaitan erat dengan totalitas pembacaan puisi.

Mentalitas seseorang berkaitan erat dengan totalitas pembacaan puisi (Widyartono, 2008: 78).

Penulisan Daftar Rujukan
Dari buku
Widyartono, Didin. 2009. Membaca Puisi Berbasis Metode Latihan Dasar Teater. Malang: Indus Nesus Private
Dari buku berisi kumpulan artikel (ada editor)
Widyartono, Didin (Ed). 2009. Sosiolinguistik. Malang: Indus Nesus Private
Dari artikel dalam buku (ada editor)
Sholehuddin, Muhammad. 2008. Pengantar Sejarah Sastra. Dalam Widyartono, Didin. 2009. Sejarah Sastra Indonesia Modern. (hlm. 89-99). Malang: Indus Nesus Private
Dari artikel dalam jurnal
Widyartono, Didin. 2009. Polemik Kelahiran Sastra Indonesia Modern. Forum Sastra, 1 : 23-45.
Dari artikel dalam CD/DVD
Widyartono, Didin. 2009. Bentuk dan Gaya Membaca Puisi Chairil Anwar. Sastra Kita, 12: 345-67 (CD: Sastra Kita Digital, 2009)
Widyartono, Didin. 2009. Bentuk dan Gaya Membaca Puisi Chairil Anwar. Sastra Kita, 12: 345-67 (DVD: Sastra Kita Digital, 2009)
Dari artikel dalam majalah/koran
Widyartono, Didin. 11 januari 2009. Teknik Membaca Puisi Taufik Ismail. Republika, hlm.7.
Dari koran (tanpa penulis)
Kompas. 12 Maret, 2009. Kloning Manusia, hlm. 9.
Dari dokumen resmi (tanpa penulis, tanpa penerbit)
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1997 tentang Penyalahgunaan Narkoba. 1997. Jakarta: PT Peduli Sesama
Dari pedoman lembaga/instasi
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1984. Pedoman pembentukan Istilah. Jakarta: Balai Pustaka
Dari karangan terjemahan
Wong, Tfu Soak. 2008. Teknik Pengobatan tanpa Obat. Terjemahan oleh Didin Widyartono. 2009. Malang: Indus Nesus Private
Dari skripsi, tesis, disertasi
Widyartono, Didin. 2007. Pengembangan Media Interaktif Membaca Puisi Berbasis Kompetensi. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang
Dari makalah seminar, diskusi panel, dll.
Widyartono, Didin. 2009. Totalitas Membaca Puisi. Makalah disajikan dalam Workshop Membaca Puisi yang Baik di Batu Angkatan XII Kaum Peduli Sastra, Malang 14 April 2004.
Dari internet berupa artikel jurnal
Widyartono, Didin dan Muhammad Din. 2009. Jurnal Sastra Indonesia: Dramaturgi. Jilid 7, No.8, (http:www.sastra_endonesa.com, diakses 1 Januari 2004)
Dari internet berupa blog
Widyartono, Didin. 2009. Unsur-Unsur Puisi. (http:www.sastra_endonesa.com, diakses 11 Januari 2009).
Dari internet berupa bahan diskusi
Widyartono, Didin. 7 Juli 2007. Mengelola Blog. ENDONESA Discussion List. (endonesa@gmail.com, diakses 8 Agustus 2008)
Dari internet berupa email
Widyartono, Didin. (semutkesemutan@gmail.com). 14 Februari 2009. Polemik Periodisasi Sastra. Email kepada Muhammad Din (kataberkata@gmail.com)
Rujukan dari internet berupa karya individual
Widyartono, Didin. 2009. Belajar Membaca Puisi, (Online), (http://www.harunyahya.com/indo/berita/belajar_membaca_puisi_.htm, diakses 13 April 2009).

Tabel dan Gambar

Tabel 3.2 Rincian Pengeluaran Rapat Guru

No.    Rincian    Harga Satuan (Rp)    Banyak    Jumlah
1    Sewa Tempat    500.000 /bulan    1 bulan    500.000
2    Penyewaan LCD    100.000 /pertemuan    5 pertemuan    500.000
3    Penyewaan Sound System    100.000 /pertemuan    5 pertemuan    500.000
4    Biaya Konsumsi    100.000 /pertemuan    5 pertemuan    500.000
5    Biaya Akomodasi    300.000 /bulan    5 bulan    1.500.000
Jumlah    3.500.000

Gambar 3.7  Program untuk mengubah bentuk huruf.

The gymnastic philosipies
Phisical education in america in the latter half of the nineteenth century  was dominated by the european and american systems of gymnastics (see capter 2 for descriptions of these various systems). The german system that was transported to america was influenced primarily by friedrich ludwig  jahn. The sweedish system was developed primarily by Friendrich ludwing jahn. The swedish system was developed primarily  by per henrik ling. These to format   system of gymnastics werefar from identical, yet the conditions under  which they developed and the philosphies  undergirding them had a great deal in common.
The common idea that gave rise to these. European system was nationalism. Jahn‚Äôs entire life was devonted  to one purpose: the unity of Germani and the development  of a german patriotism (gerber, 1971) he admired the seft-reliance and independence that seemed to be a byproduct of growing up in a rural area dominated by hard-working peasant farmers, whose life was spent outdoors and for whome physical tasks where a part  of daily life. The gymnastic system he developed was designed to produce  those qualities. The motto he adopted for his gymnastic society  (the turners)  was ‚Äú Frisch, froh, stark und frei ist die turnerei‚Äù which means ‚Äúgymnasts are vigorous, happy, strong, annd free‚Äù (gerber, 1971, p. 131)
Ling’s great mission was to restore to the swedish people the spirit and grandeur of the ancient Scandinavian race, particularly the glory that emanated from Norse mythogy. Ling was a literary giant in his day and fencing master. It was during his own training in fencing in Denmark that he became aequainted with gymnastics, wich he later took home and developed into the complex and multifaceted program that came to be known as Swedish gymnastics.
Both germany and Sweden were at low points in their national histories when Jahn and Ling were developing their programs. Each of the gymnastic systems had goals for individual development, yet there was also a distinct group dinamic to the programs-one that lent it self particularly well to military training. Thus, the philosophy of gymnastic training, although clearly to the benefit of the individual participant, was also linked to the health and well-being of the state. A strong and morally upright state could develop only from the firm foundation provided to young man (and, to a lesser extent, to young woman) by an education that included a substantial involvement in gymnastic
The nasionalism that undergirded European gymnastics in the nineteenth century could not  survive in america, In competition with american gymnastic systems, the proponents of the European systems began to emphasize the physical and health benefits and the individual moral growth that were thought to accompany regular participation in these programs.

sumary:
Paragraf 1
Phisical education in america in the latter half of the nineteenth century  was dominated by the european and american systems of gymnastics,
The german system that was transported to america was influenced primarily by friedrich ludwig  jahn. The sweedish system was developed primarily by Friendrich ludwing jahn, and swedish system was developed primarily  by per henrik ling.
Paragraf 2
The common idea that gave rise to these. European system was nationalism. Jahn‚Äôs entire life was devonted  to one purpose: the unity of Germani and the development  of a german patriotism.
Paragraf 3
Ling’s great mission was to restore to the swedish people the spirit and grandeur of the ancient Scandinavian race, particularly the glory that emanated from Norse mythogy Norwegia.
Ling was a literary giant in his day and fencing master, that he became aequainted with gymnastics, wich he later took home and developed into the complex and multifaceted program that came to be known as Swedish gymnastics.
Paragraf 4
Both germany and Sweden were at low points in their national histories when Jahn and Ling were developing their programs.
Each of the gymnastic systems had goals for individual development, yet there was also a distinct group dinamic to the programs-one that lent it self particularly well to military training. Thus, the philosophy of gymnastic training, although clearly to the benefit of the individual participant, was also linked to the health and well-being of the state.
Paragraf 5
In competition with american gymnastic systems, the proponents of the European systems began to emphasize the physical and health benefits and the individual moral growth that were thought to accompany regular participation in these programs

Conclusion:
In the second half of the 19th century there were two streams do gymnastics of the most influential American. The first flow is a gymnastics Germany system which was introduced by Friedrich Ludwig Jahn, the general idea that led to this system is nationalism. While the Swedish system of gymnastics was introduced by Henrik per-ling, the mission was to restore to the people of Sweden the spirit and majesty of ancient Scandinavian race.

Both germany and Sweden were at low points in their national histories when Jahn and Ling were developing their programs. Each of the gymnastic systems had goals for individual development, yet there was also a distinct group dinamic to the programs-one that lent it self particularly well to military training

Problem:
Jahn‚Äôs, The gymnastic system he developed was designed to produce  those qualities. The motto he adopted for his gymnastic society  (the turners)  was ‚Äú Frisch, froh, stark und frei ist die turnerei‚Äù which means ‚Äúgymnasts are vigorous, happy, strong, annd free‚
Ling’s It was during his own training in fencing in Denmark that he became aequainted with gymnastics, wich he later took home and developed into the complex and multifaceted program that came to be known as Swedish gymnastics.
Both germany and Sweden were at low points in their national histories when Jahn and Ling were developing their programs. Each of the gymnastic systems had goals for individual development, yet there was also a distinct group dinamic to the programs-one that lent it self particularly well to military training. Thus, the philosophy of gymnastic training, although clearly to the benefit of the individual participant, was also linked to the health and well-being of the state. The nasionalism that undergirded European gymnastics in the nineteenth century could not  survive in america,

Solution :
In competition with american gymnastic systems, the proponents of the European systems began to emphasize the physical and health benefits and the individual moral growth that were thought to accompany regular participation in these programs.

THE GYMNASTIC PHILOSIPIES

Working paper

By :
Ari Anshari
Anggun Kartika Sari    108711410220
Sigit Bayu Utomo    108711410221

MALANG STATE UNIVERSITY
FACULTY OF SPORT SCIENCE

Tag Cloud